Radio Tak Mati, Tapi Harus Berubah: KPI IIQ Jakarta Gelar Kuliah Umum Soal Eksistensi Radio di Era Digital

Radio Tak Mati, Tapi Harus Berubah: KPI IIQ Jakarta Gelar Kuliah Umum Soal Eksistensi Radio di Era Digital

Lebih dari separuh penduduk dunia masih mendengarkan radio setiap bulannya. Hanya saja kini lewat smartphone, bukan lagi perangkat konvensional. Fenomena inilah yang dibahas dalam kuliah umum Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IIQ Jakarta bersama General Manager Bens Radio, Muhammad Firdaus, sekaligus penandatanganan kerja sama kelembagaan antara dua institusi.

TANGERANG SELATAN — Di tengah gempuran platform streaming dan media sosial, industri radio dinilai masih jauh dari kata mati. Namun, satu hal yang tidak bisa ditawar: radio harus segera bertransformasi atau perlahan ditinggalkan. Pesan itulah yang menggema dalam Kuliah Umum bertajuk “Urgensi Diversifikasi dan Optimasi Media Sosial dalam Mempertahankan Eksistensi Radio” yang digelar Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, Senin (25/5/2026).

Acara ini sekaligus menjadi panggung bagi dua institusi IIQ Jakarta dan Bens Radio 106.2 FM resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) antara IIQ Jakarta dengan Bens Radio, serta Perjanjian Kerja Sama (MoA) antara Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) IIQ Jakarta dengan Bens Radio.

Dipandu moderator Al Mukarromah, M.I.Kom., dosen Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) IIQ Jakarta, seluruh rangkaian acara berlangsung di Gedung Hj. Zatiah Kadir, Pesantren Takhassus IIQ Jakarta, Pamulang Timur, dan dihadiri sekitar 200 peserta dari kalangan mahasiswa, dosen, pimpinan fakultas, hingga publik umum melalui.

Rektor IIQ: Radio Punya Kekuatan yang Tak Dimiliki Media Digital

Membuka acara secara resmi, Rektor IIQ Jakarta menegaskan bahwa tema kuliah umum hari ini cukup strategis. Di tengah pesatnya perkembangan media sosial dan platform digital, radio justru menyimpan keunggulan khas yang tidak bisa ditiru medium lain yaitu kekuatan suara, kedekatan emosional dengan pendengar, dan daya jangkau yang mampu menembus pelosok negeri yang belum tersentuh internet sekalipun.

Dalam konteks dakwah Islam, hal ini menjadi sangat bermakna. Rektor mengingatkan bahwa siaran radio telah terbukti mampu menyentuh hati masyarakat luas, termasuk mereka yang tinggal di daerah-daerah terpencil yang belum terjangkau koneksi digital. Karena itulah, kemampuan mengoptimalkan media sosial sebagai instrumen pendukung eksistensi radio bukan sekadar pilihan melainkan keniscayaan bagi para praktisi media Islam masa kini.

“IIQ Jakarta hadir untuk melahirkan daiyah yang literat media, yang mampu menyebarkan nilai-nilai Al-Qur’an melalui berbagai platform komunikasi modern,” ujar Rektor dalam sambutannya.

Soal MoU dan MoA yang baru saja ditandatangani, Rektor menyambut kerja sama itu dengan harapan besar agar tidak berhenti di tataran seremonial. Ia mendorong agar kemitraan ini segera diwujudkan secara konkret dan memberi manfaat nyata bagi mahasiswa maupun masyarakat luas.

Dua dokumen kerja sama yang ditandatangani hari ini memiliki cakupan yang cukup luas. MoU antara IIQ Jakarta dan Bens Radio meletakkan fondasi kolaborasi dalam kerangka pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, sementara MoA antara FUD IIQ Jakarta dan Bens Radio mengatur implementasi teknisnya secara lebih spesifik di tingkat fakultas.

Dengan kata lain, mahasiswa KPI IIQ Jakarta kini memiliki akses langsung ke salah satu stasiun radio terbesar di Jakarta untuk mengasah kemampuan penyiaran mereka di dunia nyata, bukan hanya di ruang kelas.

Disrupsi Nyata, Bukan Sekadar Wacana

Kuliah umum ini bukan tanpa alasan mendesak. Data Digital 2025 Global Overview Report mencatat rata-rata masyarakat menghabiskan lebih dari dua jam per hari di media sosial. Sementara itu, konsumsi audio tradisional terus bergeser ke platform digital berbasis on-demand. Generasi muda yang kini menjadi segmen audiens terbesar jauh lebih akrab dengan TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts ketimbang memutar radio FM di rumah.

Kondisi ini memukul banyak lembaga penyiaran. Daya jangkau menyusut, loyalitas pendengar goyah, dan model bisnis konvensional kian sulit dipertahankan. Namun di sisi lain, radio sesungguhnya menyimpan keunggulan yang tidak mudah ditiru medium lain yaitu kedekatan emosional yang dibangun lewat suara, kecepatan distribusi informasi, kekuatan lokalitas, dan kemampuan membentuk komunitas pendengar yang loyal.

“Persoalannya bukan lagi apakah radio masih dibutuhkan, melainkan bagaimana radio mampu beradaptasi dengan ekosistem komunikasi digital kontemporer,” demikian pokok pikiran yang menjadi roh kegiatan ini.

Bens Radio: Bukti Transformasi Digital

Firdaus membawa data konkret dari pengalaman mengelola Bens Radio, stasiun yang beridentitas kuat sebagai radionya warga Betawi. Berdasarkan data Nielsen, Bens Radio mencatatkan angka pendengar tertinggi di Jakarta dengan 1.280 poin, mengungguli Gen FM (1.220) dan Elshinta (995). Sementara data streaming internal Januari 2026 menunjukkan rata-rata 918.010 pendengar unik per bulan, dengan puncak 30.543 pendengar pada 18 Januari.

Capaian tersebut bukan tanpa strategi. Bens Radio menerapkan model konvergensi media yang memadukan siaran FM konvensional dengan kehadiran aktif di YouTube, Instagram, TikTok, hingga website streaming. Para penyiar pun difungsikan sebagai brand ambassador digital yang aktif di berbagai kanal, bukan sekadar suara di udara.

“Radio yang hanya mengandalkan gelombang FM perlahan akan kehilangan pengiklan dan pendengar. Diversifikasi konten ke platform digital sudah menjadi keharusan mutlak,” tegas Firdaus.

Tiga Kunci Bertahan di Era Digital

Dari paparan Firdaus, setidaknya ada tiga pilar utama yang harus dimiliki radio masa kini: pertama, konvergensi media, menggabungkan fungsi broadcasting konvensional dengan teknologi digital; kedua, diversifikasi konten, memproduksi konten video, podcast, dan artikel web, bukan hanya siaran suara; ketiga, optimasi media sosial, menjadikan Instagram, TikTok, dan X sebagai corong promosi utama sekaligus ruang interaksi dua arah dengan pendengar muda.

Yang tak kalah penting, transformasi ini bukan sekadar perpindahan medium. Ini adalah perubahan paradigma: dari model komunikasi satu arah menuju komunikasi partisipatif berbasis engagement. Konten radio kini tidak cukup hanya “didengar”, ia harus bisa “ditonton”, “dibagikan”, dan “diviralkan”.

Data demografis juga menjadi sorotan penting. Survei Nielsen mengungkap bahwa 57 persen pendengar radio saat ini merupakan Gen Z (30%) dan Milenial (27%). Fakta ini mendorong radio untuk semakin agresif merangkul segmen muda melalui pendekatan digital-first. (FP)

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp