Menyongsong Kurikulum Cinta, PIAUD IIQ Jakarta Gelar Kuliah Umum Bahas Pendidikan Anak Usia Dini yang Penuh Kasih dan Profesional

Menyongsong Kurikulum Cinta, PIAUD IIQ Jakarta Gelar Kuliah Umum Bahas Pendidikan Anak Usia Dini yang Penuh Kasih dan Profesional

Tangerang Selatan – Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta menggelar kuliah umum bertema “Mengajar dengan Cinta, Mendidik dengan Profesional: Menyongsong Implementasi Kurikulum Cinta di PAUD” pada Selasa, 7 Juli 2026, mulai pukul 13.30 WIB melalui platform Zoom.

Materi kuliah umum ini disampaikan oleh Dr. H. Abdul Basit, S.Ag., M.M., Kepala Subdirektorat (Kasubdit) Kurikulum dan Evaluasi pada Direktorat KSKK Madrasah, Ditjen Pendidikan Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia. Ia memaparkan secara rinci landasan filosofis hingga langkah-langkah teknis implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di satuan pendidikan, termasuk pada jenjang PAUD.

“Kurikulum Berbasis Cinta mengambil posisi sebagai jiwa dari seluruh penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran pada implementasi Kurikulum Nasional, baik yang melingkupi kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler, maupun aspek budaya dan kebijakan,” tegas Dr. Abdul Basit dalam paparannya, menegaskan bahwa KBC tidak dimaksudkan untuk menggantikan kurikulum yang sudah ada, melainkan menjadi ruh yang menghidupkan nilai cinta di setiap lininya.

Kuliah umum ini hadir di tengah keresahan publik terhadap tingginya angka kekerasan pada anak di lingkungan pendidikan. Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) periode 2020-2024 mencatat tren kasus dan korban kekerasan anak yang terus meningkat setiap tahun, dengan korban perempuan mendominasi secara konsisten pada kisaran 70-77 persen setiap tahunnya. Rapor Pendidikan 2024 turut memperlihatkan bahwa program dan kebijakan sekolah dalam menangani tindakan kekerasan secara nasional masih tergolong rendah, terutama di jenjang SD/MI dan SMP/MTs.

Menjawab persoalan tersebut, Kementerian Agama RI melalui Menteri Agama Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA, menggagas Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai solusi sistemik. Menag berprinsip bahwa humanity is only one, sehingga pemberdayaan umat perlu difokuskan pada basis kemanusiaan dan harmoni kehidupan yang diikat oleh dasar cinta. Gagasan ini muncul untuk merespons tantangan global berupa dehumanisasi, serta tantangan lokal Indonesia seperti intoleransi dan perundungan di lingkungan pendidikan, sekaligus menjawab tuntutan menyongsong Indonesia Emas 2045.

Bergeser dari Paradigma Lama

Dalam paparannya, Dr. Abdul Basit menjelaskan bahwa KBC bukan kurikulum baru yang menggantikan Kurikulum Nasional, melainkan hadir sebagai “jiwa” atau soul yang meresap ke seluruh penyelenggaraan pendidikan, baik pada kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, maupun aspek budaya dan kebijakan madrasah.

Konsep ini mendorong pergeseran paradigma dari cara pandang yang antroposentris, maskulin, berorientasi hukum formal (nomos), dan atomistik, menuju paradigma ekoteologi yang memandang alam semesta sebagai tajalli atau cerminan Allah, sehingga hubungan manusia dengan sesama dan lingkungan dijalani dengan penuh cinta. Dalam praktiknya, pergeseran ini diwujudkan lewat relasi guru-murid yang egaliter, penerapan disiplin positif berbasis kesadaran internal, komunikasi welas asih, serta sikap inklusif terhadap perbedaan.

“Disiplin yang kita bangun bukan kendali dari luar, melainkan kesadaran internal. Nilai-nilai agama diajarkan bukan sebagai doktrin yang penuh ancaman, tetapi sebagai proses menumbuhkan rasa cinta kepada Allah dan makhluk-Nya,” ujar Dr. Abdul Basit menekankan inti perubahan pola asuh dan pengajaran yang diusung KBC.

Lima Pilar Panca Cinta

Materi kuliah umum turut mengupas kerangka nilai Panca Cinta yang menjadi tujuan utama KBC, yakni melahirkan insan yang humanis, nasionalis, naturalis, toleran, dan mengedepankan cinta sebagai prinsip hidup. Kelima pilar tersebut meliputi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta ilmu, cinta lingkungan, cinta diri dan sesama manusia, hingga cinta tanah air.

Implementasi Panca Cinta di Kelas PIAUD

Bagian yang menjadi sorotan utama peserta kuliah umum adalah paparan Dr. Abdul Basit mengenai implementasi konkret kelima pilar Panca Cinta pada konteks pembelajaran anak usia dini. Ia menjabarkan bahwa setiap pilar memiliki konsep, tujuan, contoh aplikatif, hingga media dan metode pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik anak usia balita.

  1. Cinta Allah dan Rasul-Nya. Pilar ini bertujuan mengenalkan sosok Allah sebagai Tuhan Yang Maha Penyayang dan menjadikan Rasulullah sebagai teladan kasih sayang. Contoh aplikatifnya berupa bercerita tentang kelembutan Nabi Muhammad SAW kepada hewan, pembiasaan mengucap bismillah sebelum bermain, serta nasyid dan gerak syukur. Media yang digunakan antara lain boneka tangan, buku bergambar besar, dan lagu anak islami, dengan metode storytelling dan keteladanan visual.
  2. Cinta Ilmu. Pilar ini memantik rasa ingin tahu alamiah anak dan membangun persepsi bahwa belajar adalah aktivitas yang menyenangkan. Contoh kegiatannya meliputi eksperimen sains sederhana mencampur warna, permainan kotak misteri untuk stimulasi sensori, hingga eksplorasi buku bertekstur. Metode yang dipakai adalah inquiry-based play atau bermain eksploratif.
  3. Cinta Lingkungan. Bertujuan menumbuhkan koneksi emosional anak dengan alam sebagai ciptaan Allah yang harus dijaga. Contoh aplikatifnya antara lain proyek menanam biji kacang hijau, bermain sensori dengan bahan alam seperti daun dan kerikil, kegiatan memilah sampah sederhana, hingga jalan-jalan alam untuk membuat karya seni dari daun. Pendekatannya menggunakan nature-based learning.
  4. Cinta Diri dan Sesama Manusia. Fokus pilar ini adalah mengembangkan kecerdasan sosial-emosional dan empati anak. Contohnya melalui pembiasaan tiga kata ajaib “maaf, tolong, terima kasih”, penggunaan papan atau cermin ikon emosi untuk mengenali perasaan, serta kegiatan berbagi bekal bersama teman. Metodenya berupa bermain peran (roleplay) dan pembiasaan adab.
  5. Cinta Tanah Air. Pilar terakhir ini mengenalkan identitas budaya lokal dan kebangsaan secara ceria. Contoh aplikatifnya mencakup permainan tradisional seperti cublak-cublak suweng dan engklek, kreativitas membuat bendera merah putih dengan cap tangan, hingga festival mencicipi buah dan kuliner lokal. Pendekatan yang digunakan adalah pembelajaran berbasis proyek sederhana.

“Panca Cinta bukan sekadar materi tambahan yang dihafalkan, melainkan pengalaman yang dihidupkan anak sehari-hari melalui bermain, bercerita, dan keteladanan gurunya,” kata Dr. Abdul Basit, menegaskan bahwa keberhasilan implementasi KBC di PIAUD sangat bergantung pada konsistensi guru dalam menghadirkan nilai cinta pada setiap aktivitas kelas, bukan hanya pada momen-momen tertentu.

Guru Profesional yang Penuh Welas Asih

Bagian penting lain dari materi adalah pergeseran paradigma pendidik PIAUD dari pola lama yang berorientasi hukuman menuju praktik profesional berbasis welas asih. Disiplin dimaknai ulang sebagai proses membimbing, bukan menghukum; guru dilatih menggunakan komunikasi empatik dan menciptakan ruang aman bagi anak; serta mengedepankan pendekatan holistik yang menyentuh aspek fisik, kognitif, sosial-emosional, bahasa, hingga nilai spiritual anak secara utuh. Deteksi dini terhadap potensi perundungan pun ditekankan agar tidak dianggap remeh dengan dalih “namanya juga anak-anak”.

Melalui kuliah umum ini, mahasiswa dan pendidik PIAUD IIQ Jakarta diharapkan memperoleh wawasan yang lebih utuh tentang bagaimana nilai-nilai cinta dapat diintegrasikan secara nyata dalam praktik pembelajaran anak usia dini, sekaligus memperkuat kompetensi profesional dalam membangun ekosistem pendidikan yang humanis, aman, dan berlandaskan nilai-nilai keislaman, sejalan dengan visi mewujudkan madrasah dan lembaga PAUD sebagai safe zone yang ramah anak dan ramah lingkungan. (FP)

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp