Bongkar Wajah Baru Dakwah Digital, Kaprodi KPI IIQ Jakarta Raih Gelar Doktor dengan Predikat Sangat Memuaskan

Bongkar Wajah Baru Dakwah Digital, Kaprodi KPI IIQ Jakarta Raih Gelar Doktor dengan Predikat Sangat Memuaskan

TANGERANG SELATAN — Muhamad Hizbullah, Ketua Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, resmi menyandang gelar doktor usai menjalani Sidang Promosi Doktor di Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (7/7/2026). Sidang terbuka yang digelar di Ruang Auditorium Prof. Suwito, Jalan Kertamukti No. 5, Pisangan Barat, Cirendeu, itu berlangsung sejak pukul 08.30 WIB dan berakhir dengan predikat kelulusan sangat memuaskan bagi promovendus.

Sidang promosi dipimpin oleh Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, Prof. Dr. Zulkifli, MA, selaku Ketua Sidang. Hizbullah dibimbing oleh tiga promotor, yaitu Prof. Dr. Andi Faisal Bakti, MA; Prof. Dr. Media Zainul Bahri, MA; dan Prof. Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si. Adapun tim penguji terdiri atas Prof. Jajang Jahroni, MA, Ph.D; Prof. Dr. Dzuriyatun Toyibah, M.Si, MA; dan Prof. Dr. A. Bakir Ihsan, M.Si, jajaran akademisi yang dikenal luas dalam kajian komunikasi dan keislaman di Indonesia.

Menakar Wajah Baru Dakwah Digital: Antara Logika Algoritma dan Otoritas Keagamaan

Di era ketika reels, carousel, hingga video pendek TikTok menjadi konsumsi harian masyarakat, institusi keagamaan formal dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana menjaga marwah otoritas keagamaan di tengah riuhnya jagat digital? Fenomena inilah yang dikupas tuntas oleh Hizbullah dalam disertasinya yang berjudul “Difusi Inovasi Konten Dakwah di Ruang Publik Digital (Studi atas Majelis Ulama Indonesia dan Majelis Ugama Islam Singapura di Media Sosial)”.

Melalui riset ini, Hizbullah memotret bagaimana dua lembaga ulama besar di Asia Tenggara yaitu Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS), menavigasi pesan-pesan normatif agama agar tetap relevan di mata netizen tanpa kehilangan taji otoritasnya.

Tunduk pada Algoritma demi Relevansi

Penelitian ini menemukan bahwa baik MUI maupun MUIS tidak lagi bisa berdakwah secara konvensional. Keduanya dipaksa melakukan transformasi kultural dengan mengadopsi bahasa-bahasa visual kekinian. Namun, langkah adaptasi ini melahirkan dilema baru.

Hizbullah menyoroti adanya benturan antara logika algoritma platform media sosial (seperti Instagram) dengan logika deliberatif ruang publik ideal. Jagat digital yang cenderung menyukai konten singkat, cepat, dan memicu reaksi afektif, sering kali justru mereduksi pesan keagamaan yang mendalam dan memicu polarisasi di kalangan audiens.

“Ada kecenderungan polarisasi afektif yang mengiringi penyebaran konten. Ruang digital kita saat ini lebih banyak diproduksi oleh logika algoritma Instagram, bukan ruang diskusi yang sepenuhnya deliberatif,” ungkap Hizbullah dalam kesimpulan studinya.

MUI vs MUIS: Dua Konteks, Satu Tujuan

Meski sama-sama memanfaatkan Instagram, terdapat perbedaan pendekatan yang dipengaruhi oleh lanskap sosiopolitik masing-masing negara.

MUIS (Singapura): Bergerak dalam konteks Muslim minoritas, akun @muisg cenderung mengemas konten yang sangat adaptif terhadap kebutuhan praktis komunitas Muslim di tengah masyarakat multikultural yang modern.

MUI (Indonesia): Menghadapi audiens Muslim mayoritas yang sangat dinamis, konten MUI kerap bersinggungan dengan isu-isu nasional, fatwa-fatwa keagamaan kontemporer, dan diskursus publik yang lebih luas.

Menariknya, studi ini mencatat bahwa akun media sosial resmi MUIS menunjukkan tingkat responsivitas yang lebih tinggi dalam mengelola interaksi digital dibandingkan dengan dinamika media sosial di tanah air.

Rekomendasi untuk Masa Depan Dakwah Kontemporer

Melalui temuan ilmiah ini, Dr. Muhamad Hizbullah merekomendasikan pentingnya perubahan paradigma komunikasi bagi lembaga dakwah formal. Dakwah tidak lagi bisa bersifat satu arah atau sekadar memindahkan teks-teks normatif ke media digital.

Institusi keagamaan, menurutnya, harus membangun model komunikasi yang dialogis, responsif, dan peka terhadap kebutuhan audiens. Diperlukan penguatan kapasitas bagi para pengelola media digital lembaga keagamaan agar mampu membaca algoritma, melakukan klarifikasi cepat (counter-narrative) atas distorsi informasi, dan yang terpenting, mempertahankan sinergi antara otoritas keagamaan formal dengan tokoh-tokoh dakwah non-institusional yang populer di media sosial.

Rektor IIQ Jakarta: Penelitian Lintas Negara yang Patut Diapresiasi

Usai dinyatakan lulus, Rektor IIQ Jakarta, Assoc. Prof. Dr. Hj. Nadjematul Faizah, S.H., M.Hum., memberikan apresiasi tinggi atas capaian akademik yang diraih Hizbullah. Menurutnya, memilih objek penelitian di dua negara dengan konteks sosial-keagamaan yang kontras merupakan langkah yang tidak biasa, sekaligus berani.

“Melakukan penelitian di dua negara yang kontras adalah sesuatu yang baru, dan hasilnya menunjukkan perbedaan yang justru memperkaya khazanah keilmuan kita,” ujar Nadjematul Faizah.

Ia menambahkan bahwa keunikan disertasi ini juga terletak pada karakter media sosial itu sendiri yang bersifat lintas batas negara atau border line. Menurutnya, tidak mudah memilah dan memisahkan data dari dua entitas berbeda dalam ruang digital yang saling bertumpang tindih.

“Ini penelitian yang unik, karena media sosial itu sifatnya tidak ada batas negara. Justru karena itu, mampu meneliti dua negara sekaligus dan memilah datanya dengan cermat adalah sesuatu yang tidak mudah, dan ini patut diapresiasi,” kata Rektor IIQ Jakarta.

Nadjematul Faizah berharap, hasil disertasi ini dapat menjadi rujukan sekaligus pemantik motivasi bagi para peneliti berikutnya untuk mengangkat isu-isu dakwah digital yang selama ini belum banyak disentuh, khususnya dalam konteks lintas negara dan lintas budaya.

Ucapan Terima Kasih

Dalam sambutannya usai dinyatakan lulus, Dr. Muhamad Hizbullah menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Rektor IIQ Jakarta, Assoc. Prof. Dr. Hj. Nadjematul Faizah, S.H., M.Hum., Dekan Fakultas Ushuluddin dan dakwah IIQ Jakarta Dr. Muhammad Ulinnuha, para Ketua Program Studi, serta seluruh sivitas akademika IIQ Jakarta atas dukungan yang diberikan selama menempuh pendidikan doktoral.

“Saya mengucapkan terima kasih setulus-tulusnya kepada Ibu Rektor, Dekan Fakultas Ushuluddin, para Kaprodi, dan seluruh sivitas akademika atas dukungannya” ujar Hizbullah.

Sidang promosi doktor ini tidak hanya menandai pencapaian akademik tertinggi bagi Muhamad Hizbullah, tetapi juga memberikan kontribusi teoretis yang segar bagi perkembangan sosiologi Islam, komunikasi penyiaran Islam, dan studi media digital di Asia Tenggara. Kelulusannya dengan predikat sangat memuaskan turut menambah jajaran akademisi IIQ Jakarta yang berkiprah dalam pengembangan kajian komunikasi dan dakwah Islam di ranah digital.

Selamat dan sukses Dr. Muhammad Hizbullah, semoga ilmunya manfaat. (FP)

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp