rektoriiqjakarta-singgih_1708848201

Haul KH Ali Yafie Dihadiri Sejumlah Tokoh, Ini Kenangan Rektor IIQ Jakarta

Rektor Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta Hj Nadjmatul Faizah menyebut almarhum wal magfurlah KH Ali Yafie adalah pakar lingkungan hidup dalam perspektif Islam. ’’Ini menjadi panutan bagi kami,’’ ujarnya menyampaikan testimoni pesan dan kesan saat mengenang satu tahun KH Ali Yafie di kediaman almarhum, Jl Menteng V, Blok FC 5 No 12, Menteng Residence, Bintaro Sektor 7, Tangerang Selatan, Ahad (25/2/2024) pagi.

Tak hanya itu. Karya-karya dan tulisan almarhum menjadi rujukan di kalangan mahasiswa dan akademisi, terutama IIQ. “KH Ali Yafie menghormati yang muda, mendengar dan mempersilakan bicara dalam diskusi,’’ ujar perempuan yang memakai kerudung warna krem kecokelatan itu di hadapan keluarga dan undangan yang hadir.

Bagi keluarga besar IIQ, Kiai Ali Yafie yang pernah menjadi rektor IIQ, merupakan pemimpin sekaligus bapak “Kenangan lainnya adalah yang paling kami ingat, soal kebersihan nomor satu,’’ imbuhnya.

Suatu ketika, lanjutnya, Kiai Ali Yafie pernah bercerita tentang Presiden Republik Indonesia pertama Soekarno yang terkenal dengan Bung Karno. ’’Bung Karno saat kunjungan ke lokasi, tidak melihat gedung yang megah, tapi melihat kebersihan di lingkungan tersebut,’’ katanya menceritakan apa yang disampaikan Kiai Ali Yafie.

Faizah juga berharap, jalinan silaturahim antara IIQ dengan keluarga KH Ali Yafie tidak berhenti pada momen ini. ’’Tapi seterusnya dalam segala pertemuan,’’ pungkasnya.

Mengenang 1 tahun almarhum KH Ali Yafie sekaligus almarhumah Siti Aisyah dan almarhum Azmy Ali Yafie dihadiri kerabat, sejumlah tokoh, dan undangan. Di antaranya anggota Dewan Perwakilan Daerah Jimly Asshidiqie, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta KH Said Agil Munnawar, Dekan Fakultas Islam Nusantara Unusia Ahmad Suaedy, aktifis Hariman Siregar, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Rumadi Ahmad, dan Ketua Umum PB Darud Da’wah Wal-Irsyad Andi Syamsul Bahri.

Sekadar diketahui, Anregurutta Haji (AGH) atau KH Ali Yafie dikenal sebagai ulama ahli fiqih. Dan atas dedikasinya, kiai yang wafat di RS Premier Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (25/2/2023) pukul 22.13 WIB, itu menerima Anugerah 1 Abad NU kategori Pengabdi Sepanjang Hayat.

Kiai Ali Yafie lahir di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, 1 September 1926 atau 23 Safar 1345. Itu berarti, ia wafat di usianya yang ke-96. Kiai ini lahir di bulan saat Muktamar NU pertama digelar.  Kiai Ali Yafie adalah anak ketiga dari lima bersaudara; As’ad, Muzainah, Munarussana, dan Amira. Kiai yang santun itu lahir dari pasangan Syekh Muhammad Al-Yafie dan Imacayya. Ibunya adalah seorang putri raja dari salah satu kerajaan di Tanete, sebuah desa di pesisir barat Sulawesi Selatan. Imacayya wafat saat Ali Yafie berusia 10 tahun.  Lalu ayahnya menikah lagi dengan Tanawali. Pasangan ini diberi empat keturunan; Muhsanah, Husain, Khadijah, dan Idris. Muhammad Al-Yafie meninggal pada awal 1950-an.

Kiai Ali Yafie yang menjabat sebagai rais ’aam PBNU 1991-1992 dan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat 1990-2000 itu dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Ahad (26/2/2023) siang, setelah jenazah terlebih dulu dishalatkan di masjid tak jauh dari rumahnya.

Menurut Helmy Ali, putra kedua KH Ali Yafie, Kiai Ali Yafie meninggal karena usia. Terkait sakitnya, ditambahkan, ada penyakit di dalam tubuhnya.’’Kabut di paru-paru dan penyumbatan di jantung. Terus darahnya itu, yang terakhir mengental dan harus transfusi darah, tapi itu karena ada infeksi, dan itu faktor usia,’’ jelasnya ditemui wartawan di sela-sela pemberangkatan jenazah, Ahad (26/2/2023) siang.

Saat ditanya oleh NU Online Banten, apa ada pesan untuk keluarga, dia mengatakan, selalu yang dipesankan supaya tahu diri. ’’Bisa tahu diri, membawa diri, sehingga bisa menempatkan diri. Intinya, agar selalu rendah hati,’’ ungkapnya. (Sumber: NU Online)